
Pada suatu hari Kyai Bening I mengadakan perjalanan ke Keraton Mataram dengan tujuan mengunjungi leluhurnya, yaitu Mbah Budhe Ratu Mas Sekar yang diperistri Panembahan Senopati yang kemudian bergelar Ratu Mas Waskita Jawi. Dalam perjalanannya, Kyai Bening berhenti di tempat yang sekarang adalah Padukuhan Jongke. Akhirnya Kyai Bening tidak pulang ke Pati tetapi menetap di Jongke dan mengembangkan ajaran Islam. Kyai Bening adalah seorang ulama Islam. Di Jongke lahirlah Kyai Bening II. Setelah itu dakwah dilanjutkan oleh Kyai Bening II sehingga lahirlah ulama-ulama yang mengembangkan dakwah di seputaran Jongke dan sekitarnya. Penduduk yang sekarang adalah masyarakat Sendangadi hingga Sinduadi banyak yang berdatangan ke Jongke untuk belajar agama Islam. Karena hal itu, Jongke dijuluki Mlanginya Sendangadi.
Setelah Islam berkembang di Jongke, Kyai Bening I kemudian memutuskan untuk membangun pesangrahan sendiri di luar Jongke. Tempat yang menjadi pilihan adalah Mlati Krajan saat ini. Kyai Bening dan Nyai Bening menghabiskan masa tuanya di sana hingga akhir hayatnya. Dari sinilah awal penamaan Padukuhan Mlati Krajan, yaitu adanya ningrat keturunan raja yang tinggal di situ. Sedangkan lingkungan sekitar makam Kyai Bening dinamakan Mlati Beningan.
